Cara melakukan slump tes

Spread the love

Uji slump dilakukan untuk mengetahui workability ( kemudahan pengerjaan ) dan konsistensi campuran beton. Uji slump dilakukan pada setiap campuran adukan beton untuk mengetahui campuran tiap adukan sama atau tidak. kan tidak lucu klo kekuatan beton tidak seragam, bisa – bisa runtuh sebagian.

Kelebihan uji slump selain murah dibandingkan uji lab , juga hasil nya bisa didapat dengan cepat. Jadi bila hasil slump tes kurang bagus maka adukan beton masih bisa di ubah dengan penambahan semen atau air

biasanya slump tes digunakan untuk mengetahui kemudahan pengerjaan dan cumpuran beton itu sendiri. seperti campuran air, semen, agregat halus dan kasar apakah sudah sesuai

Faktor yang mempengaruhi slump tes

  • Sifat material seperti sifat kimiawi, kehalusan, distribusi ukuran partikel, kelembaban bahan dan suhu bahan saat dicampur
  • Bahan agregat kasar dan halus seperti ukuran, tekstur, ratio campuran, kebersihan dan kadar air agregat halus dan kasar
  • Ratio semen dan air
  • urutan penambahan
  • kadar udara dalam beton
  • Metode dan peralatan batching beton,
  • Proses transportasi
  • Suhu beton
  • Pengambilan sampel beton, teknik uji kelesuan dan kondisi alat uji

Alat untuk slump tes

  • slump cone atau kerucut slump dengan tinggi 30 cm diameter atas 10 cm diameter bawah 20 cm
  • tongkat atau batang untuk menusuk
  • tatakan biasanya triple
alat slum tes

Langkah kerja uji slump

urutan tes slump
  1. Basahi cetakan dan letakkan di atas permukaan datar, lembab, tidak menyerap air dan kaku. Cetakan harus ditahan secara kokoh di tempat selama pengisian, oleh operator yang berdiri di atas bagian injakan. Dari contoh beton yang diperoleh menurut Butir 6, segera isi cetakan dalam tiga lapis, setiap lapis sekira sepertiga dari volume cetakan. Sepertiga dari volume cetakan slump diisi hingga keketebalan 67 mm , dua pertiga dari volume diisi hingga ketebalan 155 mm.
  2. Padatkan setiap lapisan dengan 25 tusukan menggunakan batang pemadat. Sebarkan penusukan secara merata di atas permukaan setiap lapisan. Untuk lapisan bawah akan ini akan membutuhkan penusukan secara miring dan membuat sekira setengah dari jumlah tusukan dekat ke batas pinggir cetakan, dan kemudian lanjutkan penusukan vertikal secar spiral pada seputar pusat permukaan. Padatkan lapisan bawah seluruhnya hingga kedalamannya. Hindari batang penusuk mengenai pelat dasar cetakan. Padatkan lapisan kedua dan lapisan atas seluruhnya hingga kedalamannya, sehingga penusukan menembus batas lapisan di bawahnya.
  3. Dalam pengisian dan pemadatan lapisan atas, lebihkan adukan beton di atas cetakan sebelum pemadatan dimulai. Bila pemadatan menghasilkan beton turun dibawah ujung atas cetakan, tambahkan adukan beton untuk tetap menjaga adanya kelebihan beton pada bagian atas dari cetakan. Setelah lapisan atas selesai dipadatkan, ratakan permukaan beton pada bagian atas cetakan dengan cara menggelindingkan batang penusuk di atasnya. Lepaskan segera cetakan dari beton dengan cara mengangkat dalam arah vertikal secara-hati-hati. Angkat cetakan dengan jarak 300 mm dalam waktu 5 ± 2 detik tanpa gerakan lateral atau torsional. Selesaikan seluruh pekerjaan pengujian dari awal pengisian hingga pelepasan cetakan tanpa gangguan, dalam waktu tidak lebih dari 2 ½ menit.
  4. Setelah beton menunjukkan penurunan pada permukaan, ukur segera slump dengan menentukan perbedaan vertikal antara bagian atas cetakan dan bagian pusat permukaan atas beton. Bila terjadi keruntuhan atau keruntuhan geser beton pada satu sisi atau sebagian massa beton , abaikan pengujian tersebut dan buat pengujian baru dengan porsi lain dari contoh

SNI 1972-2008 download di sini

hasli tes slump

bila ada pertanyaan silahkan komen

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *